Novel Ringan : Berikan Aku Sebuah Hobi! - Prolog 02

Saat Akan Hujan dan Seorang Laki-laki 

 Hari terasa dingin. Awan menutupi langit sepenuhnya dan angin dingin bisa dengan jelas dia rasakan.
“...Sepertinya akan hujan...”
Sembari melihat keadaan sekitar dari jendela terbuka di ruang itu, dia bergegas mengambil sebuah jaket berwarna merah jambu dengan model seperti seekor beruang dari lemari yang memiliki tinggi 2 kali dari tingginya. Di bagian dada kiri jaket itu tertera sebuah nama dengan cara dijahit. “Via Candrawati”, itulah yang tertera dan sepertinya itu adalah namanya.
Dengan cepat dia mengenakannya dan mengambil sebuah kantong kertas di meja disebelah lemari itu. Tidak diketahui apa yang ada didalamnya, namun sangat jelas bahwa didalamnya terdapat banyak barang.
Dia dengan sekuat tenaga menganggkatnya menggunakan kedua tangannya setelah mengenakan jaket beruangnya.
Dia pun berjalan menuju pintu keluar. Dan tidak perlu waktu lama dia sudah sampai dipintu keluar, meskipun dia sedikit kelelah karena berat dari kantong kertas yang dia masih dia bawa menggunakan kedua tangannya.
“Via pergi.”
Dia mengatakannya dengan santai. Namun tidak ada satu pun respon yang terdengar. Tanpa memperdulikannya, dia lanjut berjalan.
Sepertinya Via hendak pergi ke suatu tempat sebelum hujan benar-benar turun dengan membawa barang-barang berat itu. Entah karena dekat atau apa, dia memilih berjalan meskipun sebenarnya di luar rumahnya terdapat sebuah sepeda berkeranjang.
“Ha... berat banget.”
Karena berat yang terus dia rasakan, Via sempat mengeluh beberapa kali. Namun karena dijalan hanya dia sendiri, tidak ada yang merespon atau membantunya. Sepuluh menit pun berlalu, dan dia telah sampai di sebuah toko bernama “Toko Segala Ada”.
“Oh... Via sudah sampai.”
Saat dia sampai ditempat itu, suara lembut menyambut kedatangannya. Di sana seorang wanita berumur 20 tahun dengan rambut hitam tergerai dengan menggunakan sebuah apron telah menyambut kedatangannya.
“Aku sampai bibi.”
“Sudah kukatakan berkali-kali, panggil aku Kakak!”
“B-Baik, Kakak...”
Aura menyeramkan muncul seketika dari wanita itu. Dan dengan penuh ketakutan Via melakukan apa yang diinginkan oleh wanita itu.
“Hhmm... jadi apa yang kali ini kamu bawa...”
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, aura tersebut menghilang dan dengan ramahnya dia menanyakan apa yang tengah Via bawa saat ini.
“Aku membawa 151 syal rajutan...”
“151 syal rajutan!?”
Via membalas kalimat wanita penjaga toko itu dengan santai. Namun sebaliknya wanita penjaga toko merespon kembali dengan kaget. Jadi karena itulah kenapa Via merasa keberatan saat membawa kantong kertas itu.
“Kamu membuat 151 syal rajutan dan membawanya sendiri kesini? Kau tau ini baru 1 minggu sejak terakhir kamu mengirim sesuatu dan jarak rumah mu itu kan 3 komplek dari sini...”
“Eiikk!!! Maafkan aku...”
“Ahh... ini salahku.”
Via kaget mendengar suara lantang yang dikeluarkan oleh wanita penjaga toko. Dan wanita penjaga toko menyadarinya.
“Hhmm... baiklah kalau begitu. Aku akan ambil semuanya. Tapi Via tuh benar-benar anak yang pekerja keras ya?”
“Makasih, bi-Kakak.”
Wanita penjaga toko mengambil kantong kertas yang sejak tadi Via pegang dan sambil membawanya dia masuk kedalam toko dan maksud untuk mengambil uang yang sebanding dengan syal yang Via bawa. Dan tidak butuh waktu lama, wanita penjaga toko kembali dengan beberapa kertas uang ditangannya.
“Ini uang untuk semua syalmu.”
“Makasih, bi-Kakak.”
Meskipun sempat hampir salah memanggil, wanita penjaga toko tidak terlalu memikirkannya. Dia memberikan uang yang berada ditangannya ke Via.
“Lalu ini khusus untuk Via.”
“Eh.. tapi..?”
“Tidak apa-apa. Ini aku yang beli kok.”
Menggunakan kedua tangannya, wanita penjaga toko melilitkan syal yang Via rajut ke leher Via sendiri. Memang Via sempat bingung akan apa yang dilakukan wanita penjaga toko. Namun karena wanita penjaga toko mengatakan bahwa itu dia berikan kepada Via, sebuah senyum Via tunjukan kepada penjaga toko.
“Makasih, Kakak. Via pulang dulu.”
“Ya, sama-sama. Hati-hati di jalan.”
Via berpamitan dengan wanita penjaga toko dengan menggunakan sebuah syal dilehernya. Akan tetapi tujuan bukanlah rumahnya, dia berjalan berlawan dari arah rumahnya. Jalan yag dilalui sudah benar-benar sepi karena besar kemungkinan akan terjadi hujan. Dan benar saja, butir-butir air mulai berjatuhan.
Satu, dua, tiga, hingga akhirnya hujan pun menjadi lebat. Namun sebelum badannya kehujanan, Via sudah sampai ditempat yang dia tuju. Sebuah rumah tua yang sudah tidak terurus. Banyak rumput liar yang tumbuh dihalamannya dan temboknya sudah banyak terdapat coretan.
Namun tanpa memperdulikannya, Via masuk dengan santai. Dia masuk lewat pintu utama dan berjalan menuju ruang tengah. Sebenarnya dia sudah sering pergi kesana, tapi berbeda dari sebelumnya, di ruang yang ukurannya kira-kira 5x5 meter itu terdapat berbagai macam barang yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
(“Apa akan ada pembuat film disini?”)
Itulah yang pertama terpikir oleh Via. Akan tetapi karena tidak ada orang yang menjaga barang-barang itu, Via membuang jauh-jauh pemikirannya itu dan bermaksud melanjutkan tujuannya ke tempat itu.
“Apa kabar ayah, ibu... apa kalian sehat?”
Sembari mengelilingi ruang itu tanpa memperdulikan barang-barang yang sebelumnya tidak ada itu, Via mengatakan sebuah kalimat yang tidak maksud akal. Jelas-jelas tempat itu adalah rumah kosong yang tidak terawat, tapi entah mengapa Via berbicara seakan ada orang disana.
Tapi tanpa memperdulikan sebuah respon, dia mengelilingi tempat itu sebanyak 5 kali sembari bercakap-cakap sendiri. Hingga akhirnya dia berhenti dipojok kanan dari pintu masuk. Disana dia duduk dengan memeluk kedua kakinya dan menundukan kepalanya.
“Kalau begitu, selamat malam... ayah, ibu...”
Matanya pun tertutup dan kegelapan yang tak terhingga memenuhi pandangannya. Berbagai kenangan yang pernah dia alami mulai dia lihat. Saat bersama orang tuanya. Saat bersenang-senang dengan mereka. Dan saat tertawa bersama dengan mereka. Itu adalah saat yang menenangkan bagi Via. Namun layaknya sebuah film yang pasti akan berakhir, kenangan-kenangan tersebut lenyap dan kegelapan tak terhinggat yang dia lihat diawal kembali muncul.
Sebenarnya dia tidak mau melakukannya. Tapi karena bosan hanya melihat kegelapan, Via membuka matanya secara perlahan. Saat itulah dia melihat hal aneh atau mungkin bisa dikatakan dia melihat seorang laki-laki. Di atas kursi dengan kaki yang menjinjik laki-laki itu meraih sebuah tali yang sebelumnya tidak ada. Wajahnya menunjukan wajah tidak sabar dan jujur saja bagi Via itu adalah hal aneh.
“Bukankah itu tindakan bunuh diri?” Dalam benaknya Via hendak mengatakannya, tapi ada hal lain yang mencegahnya. Untuk sesaat dia terus menatap laki-laki itu. Hingga akhirnya dia menyadari sesuatu.
(“Ahhh... dia kesepian.”)
Via sudah terbiasa dengan perasaan kesepian. Meskipun berada di keramaian dia masih tetap merasa kesepian. Jadi dia mengerti kenapa laki-laki yang kemungkin lebih tua darinya itu memilih melakukan tindakan bunuh diri.
Namun jika berbicara mengenai bunuh diri atau kematian, Via tahu bagaimana rasa saat seseorang yang dekat dengannya mengalami kematian karena itulah sebisa mungkin dia menjauhi hal yang berhubungan dengan kematian, meskipun itu bisa membuatnya menjadi gila. Jika tidak, mungkin sejak lama dia pasti sudah memilih kematian dari pada merasakan perasaan kesepian ini.
Walaupun Via mati mungkin tidak akan ada yang sedih akan hal itu, kecuali wanita penjaga toko yang sudah dia anggap seperti bibinya sendiri. Tapi beda cerita dengan laki-laki yang ada dihadapannya saat ini. Mungkin dia memiliki seseorang yang sangat menyayanginya. “Jadi jika dia mati mungkin orang tersebut sedih, bukan?”
Akhirnya Via sampai di satu kesimpulan. Meski tidak mengenalnya, Via tidak bisa mengabaikan jika ada orang yang mati didepan matanya lagi. Untuk itulah dia berencana menghentikannya.
“Aku akan merasakannya...” ucap laki-laki itu.
“...apa itu memang yang kakak inginkan?”
“Eh...?”
Via menanyakan pertanyaan itu sembari menatap mata laki-laki itu dengan mata keemasannya. Dan benar saja, laki-laki itu berhenti seketika dan pandangannya teralih ke Via. Kakinya sudah hampir tidak kuat, tapi kemungkinan dia masih bisa bertahan untuk beberapa menit.

Seperti untuk sementara waktu Via berhasil menghentikan tindakan bodoh yang akan dilakukan laki-laki itu.

Comments

Popular posts from this blog

Novel Ringan Terjemahan : Isekai wa Smartphone to Tomoni (Uebu Novel)

Novel Ringan Terjemahan : Date A Live (Baka-Tsuki & KimiNovel)

Novel Ringan Terjemahan : Yuusha-sama no Shihou-sama (Uebu Novel)