Novel Ringan : Berikan Aku Sebuah Hobi! - Prolog 01

Sebuah Rencana dan Seorang Gadis 

Hobi...
Itulah yang dia inginkan.
Terdengar sepele. Namun belum tentu sepele untuknya. Setidaknya sudah 99 kali dia mencoba berbagai hal dengan keyakinan dia bisa menganggapnya sebagai sebuah hobi. Akan tetapi tetap saja hasilnya nihil.
Seberapa kerasnya dia menekuni suatu hal dengan harapan supaya bisa dia sukai, semakin cepat pula dia merasa bosan akan hal tersebut.
Namanya Rafli Satya, saat ini dia sudah berumur 17 tahun dan tengah menimba ilmu di kelas XI-A di suatu SMA di Kab, Bandung. Kota pendidikan selain jogyakarta. Banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan disana. Ya setidaknya itulah dia yakini sebelumnya.
Sering kali dia dilanda perasaan bosan dan kesepian. Akan tetapi itu bukan berari dia menyukai atau semacamnya. Ini lebih seperti dia tidak memiliki pilihan selain mengalaminya terus. Jika saja ada hal yang menarik yang bisa terjadi di kehidupannya, mungkin itu bisa menyelamatkannya dari perasaan mengerikan tersebut.
Kembali ke topik utama, Rafli sudah mengalaminya selama 10 tahun. Dalam waktu itu pula dia terus melakukan berbagai hal. Namun semua tidak akan bertahan lama. Jikalau ada yang menarik perhatiannya meskipun sedikit, Rafli paling lama hanya melakukannya selama 6 bulan saja. Sisanya dia hanya melakukan selama 6 bulan kurang, bahkan pernah sekali dia hanya melakukannya selama 6 jam saja.
Jadi apabila hal terus terjadi Rafli tidak tahu apa yang dia akan lakukan. Rafli bukanlah orang yang suka menyebar kebohongan akan sesuatu yang dia suka. Jika dia bilang menyukai satu hal mengapa dia akan mengatakannya, meskipun itu bisa merupakan hal yang tidak wajar bagi kebanyakan orang. Namun tetap saja semua itu tidak bisa dia dapatkan dalam jangka waktu 10 tahun ini.
Mudah dikatakan tapi sulit dilakukan. Perasaan bosan dan kesepiannya pun sedikit demi sedikit mulai menjadi tak terkendali. Hingga akhirnya satu hal gila terpikir didalam pikirannya.
“... aku belum pernah mencoba kematian, bukan?”
Rafli mengatakan dengan santainya kepada dirinya sendiri.  Seharusnya itu adalah ide terbodoh yang pernah terpikir oleh manusia yang hanya bisa hidup sekali saja. Jika mereka merasakan sebuah kematian, maka itu akhir dari segalanya. Namun bagi Rafli yang seperti sudah mulai hancur secara mental, mencoba kematian bukanlah ide buruk jika mengingat dia sama sekali belum pernah mencobanya.
Berbagai persiapan dia lakukan. Dari cara paling bagus, tempat paling bagus dia cari tahu, hingga barang yang tepat. Saat itu dia melakukannya secara terbuka, akibatnya orang-orang terdekatnya mengetahui rencana gilanya. Tapi meskipun banyak yang mengetahui, tetap saja mereka tidak bisa mencegahnya. Bahkan satu-satu keluarganya, adiknya sendiri pun tidak bisa melakukannya.
Akhirnya harinya tiba, hari dimana dia akan mencoba hal baru yang sama sekali belum pernah terpikir olehnya. Tidak ada perasaan takut padanya. Sebaliknya perasaan senanglah yang muncul. Lebih besar dari pada sebelum-sebelumnya. Rafli saat ini sudah sangat tidak sabar.
Rafli berada disebuah rumah kosong yang letaknya tidak diketahui oleh siapapun dan kebetulan saat ini diluar sedang hujan. Sebuah tali sudah disimpul sedemikian rupanya sudah tergantung di ruang tenganya. Dibawahnya terdapat sebuah kursi kayu. Seperti yang terlihat Rafli akan melakukan gantung diri untuk merasakan kematian yang dia inginkan.
“Akhirnya... aku sampai disini...”
Suara terdengar sangat bergairah. Seakan-akan saat ini dia sudah menjadi orang yang memiliki kelainan seksual akan kematian. Meskipun hujan semakin lebat dia sama sekali tidak memperdulikannya.
Secara perlahan dia menaiki kursi itu dan menggunakan kedua tangannya dia meraih tali yang tergantung itu. Sembari menjinjikan kakinya, dia mengarahkan lubang yang terbentuk dari tali itu ke lehernya.
“Sebentar lagi...”
Perasaan senang semakin menguasai dirinya. Dia pun sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Satu-satunya yang ada dipikirannya hanyalah keinginan untuk cepat bisa merasakan hal yang bernama kematian.
“Aku akan merasakannya...”
“...apa itu memang yang kakak inginkan?”
“Eh...?”
Saat itu sebenarnya kaki Rafli sudah hampir tidak sanggup menjinjik lagi. Tali yang dia buat itu sudah benar-benar melilit lehernya. Hanya satu gerakan kecil saja dia sudah tergantung layaknya sebuah daging mentah di sebuah toko daging.
Namun semua itu terhenti oleh sebuah suara. Dari yang Rafli dengar sepertinya itu adalah suara seorang gadis. Tapi kenapa bisa ada orang di ruangan yang sebelum-sebelumnya sudah Rafli pastikan bahwa sudah tidak berpenghuni lagi.
Pikirannya yang tadi sudah benar-benar tidak bisa dirasakan kembali seperti sebelumnya. Matanya yang sejak tadi menatap atap ruangan dengan cepat menuju ke sumber suara itu berada.
Dan apa yang dia lihat. Di pojok kanan ruangan, disana benar-benar ada seorang gadis berjaket merah jambu bermodel beruang yang duduk sembari memeluk kedua kakinya. Mata keemasannya tepat mengarah ke Rafli yang masih menjinjikan kakinya. Sebuah hal yang mengejutkan karena fakta bahwa sejak tadi Rafli tidak menyadari kehadiran gadis berbadan mungil itu.

Comments

Popular posts from this blog

Novel Ringan Terjemahan : Isekai wa Smartphone to Tomoni (Uebu Novel)

Novel Ringan Terjemahan : Date A Live (Baka-Tsuki & KimiNovel)

Novel Ringan Terjemahan : Yuusha-sama no Shihou-sama (Uebu Novel)