Novel Ringan : Berikan Aku Sebuah Hobi! - Bab 03

Rambut Pirang dan Skenario Kuno 

“Haaahhh~~~”
Saat itu langit terlihat cerah. Sinar matahari kepucatan bisa dengan jelas aku rasakan. Tidak terlalu silau, namun terasa hangat. Kemungkinan karena saat itu masih pukul 06.30, maka sinar matahari tidak terlalu terasa panas.
Namun aku tidak bisa sepenuhnya menikmati ketenangan di pagi itu. Dalam pikiranku masih teringat kejadian yang terjadi kemarin malam.
Sempat dalam benakku terpikir aku akan benar-benar menjadi tahanan rumah karena pulang terlambat. Akan tetapi untungnya itu tidak terjadi, sebaliknya dia meminta hal lain untuk mengganti hukuman yang akan aku terima. Tidak perlu dijelaskan apa yang dia minta. Namun satu hal yang jelas, aku tidak mau mengingatnya lagi.
Oleh karena itulah aku saat ini merasa kelelahan hanya bisa menghela nafas memikirkan semua yang telah terjadi. Pertama, aku gagal untuk merasakan Kematian. Kedua, aku bertemu gadis misterius dan tanpa butuh waktu lama aku sudah memiliki nomor handphone. Dan yang terakhir, tidak akan lama lagi aku akan sering bertemu dengan dia.
Berbagai kejadian yang diluar perkiraanku terus terjadi dan jujur saja aku kelelahan memikirkannya. “Setidaknya biarkan ada satu hal yang akan terjadi yang sudah sesuai aku rencanakan.” Aku sempat berpikir begitu, tapi sepertinya itu percuma saja. Seberapa keras pun aku menolaknya, tetap saja aku bukanlah tuhan yang bisa melakukan apapun sesuai keinginan.
Aku masih berjalan sendiri di jalan yang disinari cahaya matahari pagi itu. Ya meskipun kemarin teras berat, setidaknya hari ini cukup menenangkan. Aku akan pergi ke sekolah dan aku akan mencari hal yang aku sukai lagi—
“Ahh... entah mengapa aku merasa lebih buruk lagi.”
“Hei, Raf?”
“?...”
Saat terpikir olehku bahwa aku masih harus mencari hal lain yang bisa aku sukai, aku kembali merasa semua yang telah aku rencanakan kemarin itu percuma saja. Jujur saja itu cukup mengecewakan. Akan tetapi saat sedang merasakannya, dari belakang badanku terdengar suatu suara.
Dengan maksud memastikan sumber suaranya, tanpa berhenti berjalan aku memutar kepalaku ke asal suara itu terdengar. Disana aku melihat seorang laki-laki yang mengenakan pakaian yang sama sepertiku, sebuah seragam sekolah. Untuk sesaat rambutnya terlihat berlebihan, tapi aku kenal dengan orang tersebut.
“Oh, Riki... kamu terlihat bersemangat hari ini.”
Aku mengatakannya dengan lelah.
“Iya dong! Hari ini hari baru yang menunggu kita.”
Tapi tanpa memperdulikannya, Riki menjawab dengan penuh semangat. “Waahh... dia semangat banget.” Pikirku.
“Ini hari baru, tapi ada apa denganmu, Raf?”
Sebelumnya aku cukup yakin kalau dia tidak akan memperdulikanku. Namun dengan wajah yang sedikit penasaran, Riki menanyakan alasan aku terlihat kelelahan.
“Ah... bukan apa-apa kok.”
Meskipun aku sudah lama mengenal Riki, aku tidak ingin mengatakan apa yang terjadi kemarin kepadaku. Bukan karena aku ingin bunuh diri, tapi hal setelah itulah yang aku tidak ingin Riki tahu.
“Hohoho... aku tahu apa itu. Pasti rencana bunuh dirimu gagal ya? Sudah kuduga itu bakalan gagal. Aku ingin mengatakan kalau itu percuma, tapi kamu tetap saja bersikeras untuk melakukan...”
Seperti yang aku duga, Riki tidak terlalu khawatir masalah rencana bunuh diriku. Sebelum melakukannya sepertinya Riki sudah menduga bahwa itu akan gagal. Dan benar saja itu gagal dan itu sedikit mengecewakan bagiku. Karena itulah dengan panjang lebarnya dia mengatakan apa yang dia pikirkan dengan sikap lebay yang sudah dari dulu dia miliki.
Saat mendengarnya jujur saja itu menyebalkan. “Haahh... berhenti, bodoh!” pikirku. Namun tanpa bisa mengatakannya, aku hanya bisa beberapa kali menghela nafasku karena rasa lelah dan teman bodoh yang ada di samping kananku ini.
“...jadi begitu, aku pikir kamu bodoh Rafli karena berpikir untuk bunuh diri agar bisa mencari hal yang disukai.”
“Iya, iya. Aku memang bodoh.”
Akhirnya Riki berhenti mengoceh mengenai rencana bunuh diriku yang gagal. Itu berlangsung cukup lama. Jujur aku sama sekali tidak memperhatiakannya. Tapi karena tidak ingin Riki tahu bahwa aku tidak memperhatikannya, aku mengiyakan apa yang dia pikirkan tanpa pikir panjang. Perasaan lelah ini sangat menghalangiku.
“Hhhmm... hari ini lebih patuh dari biasanya ya?”
“Jadi ada apa?”
“?...”
Riki mengatakan apa yang dia pikirkan mengenai jawaban tanpa pikir panjang yang aku berikan terhadap ocehan yang dia katakan sejak tadi. Akan tetapi tanpa harus membalasnya, aku menanyakan apa yang terjadi padanya. Hari ini entah mengapa dia lebih terlihat bersemangat.
“Maksudku... kenapa kamu mewarnai rambut seperti itu? Jujur itu terlihat lebay. Emangnya ada apa hari ini?”
“Urrrkk!”
Aku akhirnya mengatakan apa yang aku pikirkan sejak bertemu dengan Riki tadi. Biasanya Riki memiliki rambut berwarna hitam, tapi apa yang ada saat ini, sebuah rambut berwarna pirang. “Apa kamu ingin menjadi seorang bule?” sebenarnya aku ingin mengatakannya, tapi aku menahannya. Jika tidak dia pasti akan mengiyakannya dan dengan gaya lebaynya dia akan bertingkah berlebihan.
“Rafli, sepertinya kamu sadar dengan perubahanku. Tapi seperti biasa kata-katamu terasa menyakitkan...”
Seperti menahan rasa sakit, Riki berbicara dengan tangan kanan yang memegang dadanya.
“...Kamu lupa hari ini hari apa?”
“Hari ini?”
Riki melanjutkan kata-katanya dengan sebuah pertanyaan yang membuatku memiringkan kepalaku.
“Sekarang hari senin bukan? Emangnya ada apa?”
“Hah!? Masa kamu lupa?”
“Ehh... emangnya ada apa sih?”
Riki membalas perkataanku dengan histerias. Itu seakan-akan apa yang aku katakan adalah suatu kesalahan terbesar yang pernah aku perbuat. Dia semakin lama semakin lebay dan rasa sebalku semakin meningkat kepadanya.
Akan tetapi tanpa bisa menunjukan perasaan sebalku, aku memegang daguku dan berpikir mengingat hal apa yang akan terjadi hari ini. Berpikir dan berpikir. Itulah yang aku lakukan. Namun tetap saja aku tidak bisa mengingatnya. Hal yang dapat dengan jelas aku ingat adalah semua kejadian yang terjadi kembali dan itu membuatku tanpa sadar menghela nafas.
Melihat aku yang sempat menghela nafas membuat Riki sedikit merasa bingung. Tapi berbeda dari sebelumnya, dia tidak menanyakan apa yang menyebabkanku menghela nafas. Dia mungkin mengetahui aku tidak akan mengatakan alasanya.
“Haa... aku menyerah. Ada apa hari ini emangnya?”
“Huhh... sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Hehehe...”
Dengan sombongnya dia kembali menunjukan sikap lebaynya. Tanganku semakin gatal, tapi tetap saja aku tidak bisa melakukan apa yang sedang aku pikirkan ini. Untuk kali ini setidaknya aku harus benar-benar bersabar.
Riki mengatakan kata-kata seperti akan memberi tahuku apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Tapi untuk beberapa saat dia hanya terdiam dengan senyum sombongnya. Kicauan burung bisa terdengar saat kami berjalan bersama. Aku masih menunggu Riki mengatakan alasan hari ini terdengar berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Akan tetapi tidak ada sepatah kata pun yang terdengar.
Rasa sebalku semakin membesar dan seiring waktu itu mulai berubah menjadi rasa marah. Urat dikepalaku bisa terlihat jelas. Tapi tetap saja aku tidak boleh melakukan itu, aku harus sabar-sabar.
“Hari ini... sebenarnya...”
“Sebenarnya?”
Akhirnya dia berbicara, tapi dengan perlahan-lahan dia mengatakan yang ingin dia katakan. Jujur saja itu mirip seperi seorang akan mengumumkan hadiah undian. Jika memang akan melakukan itu aku sebenarnya tidak terlalu peduli, akan tetapi kali ini berbeda. Aku hanya bertanya dan Riki hanya perlu menjawabnya. Namun sekali lagi karena sikap lebaynya itu, dia terus membuatku merasa sebal.
“...”
“...”
“...”
“...”
Saat itu Riki tiba-tiba terdiam, tapi senyum sombongnya semakin terlihat lebar. Sekuat tenaga mungkin aku menahan rasa sebalku. Mungkin ini salah satu rencana bodohnya. Untuk saat ini aku harus mengabaikan itu dan tetap sabar—
“Hehehe... Kamu menunggu ya? ... AWWWW!!!”
Tangan kananku dengan cepat dan penuh tenaga mengepal dan mengarah ke arah kepala Riki berada. Sebuah suara benturan dan teriakan kesakitan pun bisa terdengar disana. Aku dengan wajah yang penuh amarah sudah melakukan apa yang aku ingin lakukan sejak tadi. Sedangkan Riki memegang bagian kepalanya yang terkena pukulan tangan kananku.
Dia terlihat kesakitan tapi aku sama sekali tidak memperdulikannya. Saat ini rasa sebalku sudah benar-benar melebih batasnya. Jadi tanpa pikir panjang aku melakukan hal tersebut dan entah mengapa setelah melakukannya aku merasa lega. “Ahh... inilah kepuasan!” tanpa sadar aku mengatakannya dengan santai.
“Apa maksudmu kepuasan!? Apa memukul kepala seseorang adalah kepuasan? Bagaimana kalau nanti aku jadi bodoh!?”
Aku tanpa sadar mengatakan apa yang sedang aku pikirkan dan mendengar hal tersebut membuat Riki berteriak marah kepadaku.
“Membuatmu bodoh? Bukannya kamu udah bodoh?”
“Apa katamu!?”
Dengan polosnya aku mengatakan apa yang aku pikirkan mengenai Riki dan benar saja apa yang terjadi. Sekarang Riki lah yang menjadi sebal kepadaku.
“Hmph... aku tidak akan mengatakan apa yang akan terjadi hari ini...”
      “Iya, nggak apa-apa kok.”
“Sudah kuduga kamu tidak bisa— eh... kenapa?”
“Kan kamu nggak akan kasih tau...”
Tanpa mempermasalahkan apa yang Riki katakan, aku dengan santai mengatakan ketidak perdulianku terhadap hal yang akan terjadi hari ini. Daripada itu membuat Riki semakin sombong.
“Tapi Raf... seharusnya kamu memohon kepadaku... lalu aku akan memberikannya dengan enggan... itu yang harus kamu lakukan?”
“Hah!? Apa maksud perkataanmu?”
Benar saja apa yang aku pikirkan. Dia menunjukan sikap menolak hanya semata-mata untuk membuatku memohon. Tapi itu sudah bisa aku ketahui, jadi aku menolak balik. Ya itu yang memang harus aku lakukan.
Kemudian tanpa mempedulikan Riki yang malah memohon kepadaku, aku mempercepat langkah kakiku.
“Baiklah, baiklah. Aku akan mengatakannya!”
“Hhmm... bagus kalau menyadarinya juga...”
Kali ini sudah benar-benar sesuai yang aku rencana. Itu membuatku terdengar seperti orang licik. Tapi itu memang hal yang harus Riki dapatkan. Dalam waktu dekat ini dia harus menghilang sifat menyebalkannya itu jika tidak ingin dijauhi orang-orang.
“Hari ini bukannya hari anak kelas satu masuk...?”
“Eh, masa?”
Aku dan Riki masih berjalan menuju sekolah saat Riki mengatakan apa yang akan terjadi hari ini.
“Itulah mengapa sekali-kali coba perhatikan daerah sekelilingmu!”
“Aku tidak mau mendengar itu darimu!”
Riki menasehatiku. Tapi bagiku itu lebih mirip hinaan daripada nasehat.
“Arkk... Raf masih kejam seperti biasa.”
“Jadi itulah yang menyebabkanmu mewarnaimu rambutmu?”
“Hhmm... iya kurang lebih karena itu.”
“Tapi, kenapa?... ah...”
Sepertinya aku mengatakan pertanyaan yang tidak seharusnya aku tanyakan. Dan benar saja yang aku tebak, senyum sombong kembali terlihat di wajah Riki. “Ah... aku melakukan kesalahan.” Pikirku.
“Kenapa kamu tanya? Hahahaha... tentu saja untuk menjadi terkenal kita perlu hal yang mencolok. Karena itulah aku mewarnai rambutku seperti orang luar negeri. Eh... Raf tunggu! Jangan meninggalkanku!?”
Memang aku telah melakukan kesalahan dengan membuatnya kembali sombong. Tapi jujur saja aku sudah malas mendengar ocehannya, jadi tanpa memperdulikannya aku mempercepat langkah kakiku dan meninggalkan Riki.
***
Kembali lagi di jalan yang masih disinari matahari yang sudah semakin meninggi. Aku pun masih berjalan menuju ke sekolah dengan santai. Meskipun perjalananku sempat terganggu oleh seseorang tapi karena sekarang masih pukul 06.45, aku rasa aku akan tiba di sekolah tidak lama lagi dan itu berarti aku tidak akan terlambat.
“Raf.... jangan tinggalkan aku!”
Dari arah belakangku kembali terdengar suara seperti sebelumnya. Namun aku tidak mencoba memastikan sumber suara. Sudah jelas itu adalah orang yang tadi mengganggu perjalananku, dia Riki Purbawan. Dia teman sekelasku. Itu saat aku masih berada di kelas satu. Tapi karena sekarang sudah masuk tahun ajaran baru, mungkin saja aku tidak akan sekelas lagi dengannya. Sebuah anugerah bagiku jika itu terjadi.
“Siapa kamu?”
“Jahat banget! Walaupun mungkin tidak sekelas lagi kita tetap teman, kan?”
“Hhhmm...”
“Jawab aku, Raf!”
Riki terlihat ketakutan saat itu. Dia mungkin merasa aku akan berhenti menjadi temannya karena nanti tidak sekelas lagi. Suatu hal yang wajar jika dia merasa begitu. Sepertinya dia kesulitan bergaul dengan orang lain, jadi saat kelas satu dia lebih sering bergaul denganku yang cenderung tidak terlalu suka bergaul dengan orang lain.
“Iya, iya. Kita masih berteman kok.”
“Nah, itu baru teman sejatiku.”
“Heh...”
Dengan penuh kebanggaan dia mengatakan bahwa kami berdua sudah menjadi teman sejati. Aku tidak terlalu peduli, jadi aku tidak mempermasalahkannya.
“Kamu harus bersyukur sekolah kita adalah sekolah yang menjungjung kebebasan siswa asal masih bisa dibilang wajar. Jadi warna rambutmu itu tidak akan menimbulkan masalah. Tapi jangan terlalu berlebihan!”
“A-Aku tahu kok. Aku cuma mewarnainya saja sedikit.”
“Itu sedikit?”
Aku berhenti berjalan dan dengan sontak mengeluarkan pertanyaan itu saat melihat rambut Riki yang sudah sepenuhnya berwarna pirang. Jelas itu bukan sedikit lagi bukan?
“Apa kamu mengatakan sesuatu?”
“Eh... tidak.”
Namun sepertinya Riki tidak mendengar pertanyaan sontak yang aku katakan. Kami pun kembali melanjutkan perjalan kamu. Dan tidak perlu waktu lama, kami berdua sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah.
Tepat diatas gerbang tergantung banner bertuliskan kalimat ‘Selamat Datang Peserta Didik Baru’. Kalimat itu biasanya digunakan menyambut siswa baru. Jadi sepertinya apa yang Riki katakan adalah sebuah kebenaran, meskipun aku sama sekali tidak meragukannya setelah melihat perubahan yang dia miliki.
“Sepertinya kamu benar Riki...”
“Kan sudah aku katakan!”
“Iya, Iya.”
Setelah mengatakan apa yang aku pikirkan kepada Riki, aku dan dia kembali berjalan masuk. Tapi sebelum benar-benar berjalan, langkah kakiku terhenti untuk sesaat. Muncul suatu hal yang mungkin aku sudah benar-benar lupakan. “Berarti dia akan masuk sekarang juga bukan?” sembari memegang dagu karena tengah berpikir, aku mengatakannya dengan nada suara yang rendah. Itulah hal yang sangat penting, tapi kenapa dengan mudahnya aku melupakannya. Bodohnya diriku.
“Hei, Raf! Apa yang kamu lakukan? Cepat, jika tidak nanti kita terlambat!”
“Eh... Ah... Iya.”
Suara Riki membangungkanku dari lamunan. Kemudian dengan langkah yang cepat aku menyusul Riki yang berada tidak terlalu jauh posisiku berada. Tidak perlu waktu lama aku sudah berada disamping kirinya lagi.
“Ada apa denganmu sih?”
“Bukan apa-apa kok. Aku hanya ingat ada suatu hal yang aku lupakan...”
Riki memiringkan kepalanya saat mendengarkan penjelasan yang aku berikan.
“Ada yang kamu lupakan? Sepertinya itu adalah hal penting ya?”
“Iya sepertinya begitu.”
Seperti membaca pikiranku, Riki pun bisa tahu hal yang aku lupakan adalah sesuatu yang penting. Namun aku yang sudah tahu apa itu tidak langsung mengatakannya. Sebenarnya ada kemungkinan dia tidak diterima di sekolahku yang terkenal cukup elit. Tapi mengingat betapa luar biasanya dia, aku semakin tidak percaya kalau dia gagal masuk. “Ya, sekarang coba lihat saja nanti...” pikirku sembari menghela nafasku.
Berbagai perasaan tercampur aduk saat itu. Aku pun kembali jatuh ke dalam lamunanku, meski saat itu aku sedang berjalan.
“Eh... Raf, tunggu dulu!”
Akan tetapi sekali lagi Riki membangunkanku dari lamunanku. Langkah kakiku pun terhenti mengikuti langkah kaki Riki yang sebelumnya sudah terhenti juga. Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku dan disana aku melihat Riki yang termenung seperti orang bodoh.
“Bukankah kamu yang bilang harus cepat-cepat?”
“Bukan itu masalahnya! Coba lihat baik-baik di samping kanan pintu gerbang!”
“Apa maksudmu sih? Jika kita terlambat bukankah itu masalah?”
“Ahhh... banyak omong banget coba lihat aja deh! Dia lucu bukan?”
“Mana? ...Eh, tunggu sebentar.”
Aku sempat enggan dengan hal yang diminta Riki kepadaku. Lagipula sekarang sudah hampir pukul 7, jadi bukankah wajar jika aku bilang bahwa kita berdua harus bergegas masuk ke sekolah. Tapi meskipun aku mengatakannya, Riki tidak memperdulikannya. Dengan kedua tangannya, dia memutarkan kepalaku 45 derajat searah jarum jam. Dan kini padanganku sudah menghadap tepat kedepan.
“Coba lihat gadis itu.”
“Hah? Mana?”
“Itu... gadis mungil itu?”
“Mungil? ...eh itu...”
Sebenarnya aku masih tetap enggan melakukan apa yang diminta Riki kepadaku. Mengingat waktu yang terus berputar, bukankah tidak ada waktu untuk membuang waktu berdiam disini. Tapi tanpa bisa melakukannya, mataku terpukau melihat gadis mungil yang Riki tunjukan kepadaku.
Rambutnya pirang pendek dengan sedikit diikat di sebelah kanan kepalanya. Dia mengenakan seragam khusus wanita di sekolahku dengan dilapisi jaket merah mudah mirip beruang yang entah mengapa sepertinya pernah aku lihat.
Penampilan benar-benar terlihat seperti anak smp. Tapi kenapa dia mengenakan seragam sekolahku. Namun tanpa sempat lebih lama memikirkan penampilan fisiknya, saat dia juga menatap diriku, sebuah ingatan yang masih jelas aku ingat terlintas di dalam kepalaku. Aku memang mengenal gadis yang mengenakan jaket merah mudah mirip beruang itu.
“Via?”
“...Kak Rafli? Apa yang kakak lakukan disini?”
“Aku juga ingin menanyakan hal yang sama...”
Dengan sontak aku mengatakan nama orang yang sudah menjadi penyelamatku kemarin, dan membalas panggilanku, dia memanggil namaku dengan tambahan katak “Kak” didepannya. Benar dia adalah Via. Gadis yang sudah menyelamatkanku berkali-kali, bahkan dia pula yang membuatku sadar bahwa nyawa adalah sesuatu hal yang penting.
Kembali ke masalah utama, aku masih tidak mengerti apa yang membawa Via ke sekolahku. Ditambah pula dia mengenakan seragam sekolahku. Apa jangan-jangan,
“Mulai sekarang, aku akan bersekolah di sekolah ini...”
“Eh?”
Seperti yang kuduga. Via mendaftar ke sekolahku dan diterima. Hal itu menjadi masuk akal jika itu yang terjadi. Tapi tetap saja aku tidak menyangka akan ada saat suatu kebetulan bisa terjadi. “Apa-apaan skenario kuno ini?” pikirku.
Namun meskipun aku berpikir begitu, bukan berarti aku tidak menyukai Via bersekolah di sekolah yang sama sepertiku. Hanya saja aku bingung dengan jalan kehidupanku yang sebelumnya hampir berakhir ini.
“Jadi itu kenapa kamu memanggilku Kakak? Kamu udah tahu aku lebih tua ya?”
“...iya, kurang lebih begitu.”
Aku sempat memastikan alasan kenapa dia memanggilku kakak sejak pertama bertemu dan ternyata benar. Dia tahu bahwa aku lebih tua darinya, walaupun aku menganggap dia jauh lebih muda dariku.
“T-Tunggu, apa maksudnya ini?”
Orang yang dengan gemetarnya menanyakan pertanyaan itu adalah Riki yang sejak tadi berada di berdiri di samping kananku dan mendengar apa yang aku dan Via katakan.
“Kamu tanya apa maksudnya? Sudah jelas bukan... kami berdua saling mengenal.”
Tanpa pikir panjang aku menjawab hal yang ditanyakan Riki dengan santai. Badannya semakin gemetar dan lalu,
“APPPAAA!!???”

Suara teriaknya memudah ke langit.

Comments

Popular posts from this blog

Novel Ringan Terjemahan : Isekai wa Smartphone to Tomoni (Uebu Novel)

Novel Ringan Terjemahan : Date A Live (Baka-Tsuki & KimiNovel)

Novel Ringan Terjemahan : Yuusha-sama no Shihou-sama (Uebu Novel)