Novel Ringan : Berikan Aku Sebuah Hobi! - Bab 02
Permintaan Maaf dan Sebuah Janji
Hujan sudah berlangsung selama 2 jam sejak butir pertamanya jatuh. Karena kebetulan saat itu hari sudah hampir sore, suasana sekitar terlihat gelap. Meskipun begitu, jam saat ini masih menunjukan pukul 03.30 WIB. Tidak sesuai dengan hal yang sebenarnya. Aku sempat berpikir begitu saat duduk melihat suasana sekitar dari jendela yang kacanya pecah itu.
Aku masih hidup dan bisa bernafas seperti seharusnya. Suatu hal yang cukup melegakan bahwa aku tidak jadi melakukan apa yang telah aku rencanakan sebelum. Namun dalam benakku masih tetap ada sebuah kekecewaan karena gagalnya rencana yang sudah susah payah aku buat.
“Jika ini gagal juga, berarti aku harus mencari lagi.” Itu yang aku pikirkan. Tapi aku tidak mengatakannya. Sebaliknya aku menghela nafasku menggantikan apa yang sedang aku pikirkan itu.
Sempat muncul dipikiranku apa yang membuatku menjadi seputus-asa itu hingga bisa berpikir untuk melakukan tindak bunuh diri. Akan tetapi saat memikirkannya, entah mengapa aku sama sekali tidak bisa mengingatnya. Sepertinya ada beberapa hal yang aku lupakan. Seharusnya jika aku mencoba lebih berusaha lagi untuk mengingatnya kemungkinan aku bisa mengingat beberapa hal. “Tapi sepertinya itu mustahil deh.” Pikirku sembari menghela nafas.
“Sekali lagi, maafkan aku, Via.”
“...”
Penyebab aku tidak bisa melakukan hal yang aku inginkan itu adalah gadis mungil bernama Via yang kini tengah duduk di depanku.
“Aku minta maaf, Via.”
“...”
Sudah berkali-kali aku mengucapkan permintaan maaf kepadanya. Tapi sebanyak apapun aku melakukannya, dia sama sekali tidak memperdulikannya. Dengan wajah yang memerah dia mengembungkan pipinya sembari berusaha tidak menatap diriku.
Jelas sekali itu adalah ketidak sengajaan. Akan tetapi entah mengapa meskipun sepertinya Via tahu hal itu, dia tetap tidak memperdulikan permintaan maafku. Ah sudah kuduga dia tidak akan memaafkan orang yang melakukan pelecehan seksual.
Via adalah orang yang telah menyadarkanku, dengan kata lain dia adalah penyelamat nyawaku. Namun apa yang telah aku berikan kepada penyelamatku? Suatu hal yang tidak pantas atau bisa dikatakan tidak benar. Rasa putus asa akan diri sendiri pun mulai muncul dalam benakku.
“Benar... Seharusnya aku mati saja!”
“?...”
Saat mengatakan itu, aku memanjangkan tangan kananku ke tempat barang-barang menumpuk. Sebenarnya itu adalah tumpukan barang untuk bunuh diri yang sengaja aku bawa. Disana aku meraih sebuah pisau dapur. Kemudian setelah memegangnya dengan kedua tanganku, aku mengarahkan ujungnya tepat ke leherku.
Dalam benakku sudah merasa bahwa diriku sudah memang tidak punya hak hidup lagi setelah melakukan hal memalukan kepada penyelamat hidupku. Jadi karena itulah kurasa seharusnya aku memang harus mati saja. Ya setidaknya itulah yang aku pikirkan. “Ahh.. akhirnya aku akan benar-benar mati.” Pikirku.
“Eh...?”
Namun tanpa sempat melakukan hal tersebut. Via yang sejak tadi mengabaikanku, bergerak dengan cepat ke arahku dan menggunakan tangan kanannya, dia memukul kedua tanganku yang sedang memegang pisau dapur itu. Hasilnya pisau tersebut terlempar dari tanganku dan aku sedikit merasakan rasa sakit karena pukulan dari tangan kecil Via. Suara pisau terjatuh pun bisa dengan jelas terdengar di ruangan itu.
“Apa yang akan kamu lakukan!? dasar Kakak bodoh!!!”
“Apa yang kamu katakan? Jelas-jelas aku ingin mati bukan?”
“Aku tahu Kak Rafli mencoba bunuh diri lagi... tapi yang Via tanyakan itu adalah kenapa Kak Rafli ingin melakukannya?”
Aku memiringkan kepalaku saat mendengar suara lantang Via. Untuk sesaat Via terlihat khawatir, tapi entah mengapa aku tidak mengerti apa hal yang dia khwatirkan. Lagipula awalnya Aku dan Via sebenarnya tidak saling kenal, akan tetapi sejak tadi Via terus ikut campur dengan urusanku. Suatu hal yang aneh bagiku.
Kembali ke masalah utama, wajah Via masih merah seperti sebelumnya. Tapi saat dilihat baik-baik, matanya seperti akan menangis. Ah sepertinya aku melakukan kesalahan lagi. Tapi aku tidak mengetahui hal salah apa yang telah aku lakukan. Memang benar seharusnya aku mati—
“Apa Kak Rafli pikir dengan mati bisa menyelesaikan segala? Apa nyawa itu sesuatu yang murah sehingga dapat dengan mudah dibuang? Via tanya kepada Kak Rafli!?”
“I-Itu...”
Mulutku terasa membeku saat mendengar pertanyaan yang diberikan Via. Aku sama sekali tidak bisa menjawabnya. Sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku segala hal yang Via tanyakan kepadaku. Jika Via tidak menanyakannya, mungkin aku akan terus berpikir kematian adalah hal yang sepele. Jelas itu adalah hal yang salah.
Lalu saat itu pun terlintas satu pertanyaan yang sebelumnya belum pernah aku sadari. “Kalau dipikir-pikir, aku sudah seperti orang gila bukan?”
Otakku sudah benar-benar sampai dibatasnya. Kurasa hanya menjalani hidup seperti sebelum mungkin akan menjadi hal yang mustahil. Rasa kesepianku karena tidak memiliki suatu hal yang disukai membuatku ragu akan masa depan. Apa yang harus aku lakukan kedepannya adalah sesuatu yang tidak bisa aku pikirkan.
“Arrrkkk....!”
Memikirkannya membuat kepalaku terasa sakit. Dengan kedua tanganku, aku memegangnya dengan harapan supaya rasa sakitnya bisa berkurang. Namun tetap saja aku masih bisa merasakan rasa sakit yang semakin lama semakin menjadi-jadi itu.
Seiring waktu pun kesadaranku pun mulai memudar. Ini mungkin karena tekanan mental yang terlalu besar sehingga aku bisa kehilangan kendali tubuh bahkan kesadaranku sendiri. Mungkin kali ini aku akan benar-benar mati—
“Kak Rafli bertahanlah...!”
“...”
Itu suara Via. Sepertinya dia berusaha agar aku tidak benar-benar jatuh dalam kegelapan. Namun sepertinya dia sedikit terlambat. Rasa sakit dikepalaku sudah benar-benar tidak bisa aku abaikan. Saat itulah kegelapan memenuhi pandanganku dan aku tidak bisa mengingat apapun.
***
“Hhhhmmm....?”
Ini terasa aneh. Untuk beberapa saat yang lalu aku yakin hanya rasa sakit dan dingin yang bisa aku rasakan. Namun untuk beberapa alasan, aku sudah tidak merasakannya. Sebaliknya, ada suatu hal lain yang aku rasakan.
...Ini tenang dan hangat.
Sejak tadi hanya ada kegelapan di pandanganku. Akan ketika saat secara perlahan aku mengangkat kelopak mataku, secerca cahaya bisa samar-samar aku lihat dan aku sadar bahwa diriku sedang terbaring di atas sebuah tempat tidur.
Meskipun belum terbuka sepenuhnya, aku bisa melihat suatu hal yang sama sekali tidak aku kenali. Atap putih terukir asing yang dibagian tengahnya terdapat sebuah lampu yang menyala. Sejujurnya aku tidak tahu apa yang sudah terjadi sehingga aku bisa disini. Jelas-jelas ini bukanlah rumahku maupun tempat aku berada sebelumnya. “Jadi aku ada dimana?”
“Oh... Kakak sudah bangun ya...”
“Eh...”
Sembari mengikuti sumber dari suara yang sempat membuatku kaget itu, aku melihat seorang gadis berbadan mungil yang mengenakan sebuah piyama berwarna biru muda. Dan aku kenal gadis mungil itu.
“Via... apa yang kamu lakukan?”
“...Apa yang Via lakukan? Merawat Kak Rafli, bukan?”
Benar itu adalah Via. Gadis yang tidak lama ini baru aku temui tanpa sengaja di tempat yang sebelumnya akan aku gunakan untuk merasakan kematian. Namun karena dia, aku tidak jadi melakukannya. Jadi bisa dikatakan dia adalah penyelamat hidupku. Akan tetapi semua itu tidak bisa menjelas situasi yang sedang terjadi saat ini.
Lagipula kenapa aku bisa terbaring ditempat ini dan kenapa Via bisa dengan santai memakai piyama didepan laki-laki yang baru dia kenal dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat sebuah mangkuk dan sebuah gelas berisi air.
“...Kak Rafli makan ini...”
“Oh, Makan? Eh, tunggu dulu! Sebelumnya coba jelaskan aku ada dimana dan apa yang terjadi padaku?”
Via menyimpan nampan yang diatasnya terdapat bubur didalam mangkok dan sebuah gelas berisi air di atas meja yang berada tidak jauh dari tempat tidur. Aku berpikir untuk meraihnya. Tapi tanpa sempat melakukannya, aku dengan paniknya menanyakan apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya. Yang aku ingat, terakhir kali aku berada di ruang tengah sebuah rumah kosong. Akan tetapi kenapa saat ini aku bisa ada disini. Sebuah fakta yang membuatku bingung.
“...Dimana ini? Ini rumahku... lalu apa yang terjadi pada Kak Rafli? Tadi Kakak pingsan... jadi aku membawa Kakak kesini...”
Namun berbeda dengan apa yang aku rasakan, Via membalas pertanyaanku dengan santai dan sebuah senyuman manis. Lagipula katanya ini rumahnya... dia membawaku kesini karena aku pingsan—
“APPPAAA!!!!”
Dengan lantang aku berteriak setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Via yang mendengarnya kaget dan menggunakan kedua tangannya, dia menutup kedua telinganya. Suaraku terlalu keras mungkin.
“...Berisik! Kenapa Kak Rafli membuatku kaget?”
“Eh... maaf. Aku hanya kaget.”
Sepertinya Via terganggun dengan teriakanku, karena itulah aku segera meminta maaf. Dan benar saja, sembari melepaskan kedua tangan dari kedua telingannya, Via kembali tersenyum. “Syukurlah, sepertinya dia memaafkan aku.” Itu yang aku pikirkan. Tapi meskipun begitu masalah belum benar-benar selesai...
“Benarkah aku pingsan dan Via membawaku sendiri?”
“...”
Untuk memastikannya aku kembali bertanya. Via mendengarnya dan tanpa mengatakan apapun dia menganggukan kepalanya.
“Terima kasih dan maafkan aku jika sudah menyusahkan. Pasti kamu keberatan membawaku ya?”
“...tidak apa-apa kok. Via hanya tidak tega membiarkan Kak Rafli sendirian disana...”
Sungguh seorang malaikat. Bukan hanya menyelamatkanku saat akan bunuh diri, dia juga membawaku saat pingsan. Via mungkin keberatan saat mengangkat badanku. Ah sepertinya aku sudah berhutang budi banyak kepada gadis berbadan mungil ini.
“Jadi ini benar rumahmu?”
“...”
Via kembali tidak berkata apa-apa saat menanyakan pertanyaan kepadannya. Kepalanya hanya mengangguk menandakan bahwa itu benar. Aku sempat melihat ke sekeliling saat berusaha mengambil posisi duduk sembari mengambil beberapa suap bubur menggunakan sendok yang sudah disediakan.
Rapih dan harum. Semuanya tertata rapih. Lemari dan perabotan-perabotan lain tersusun dengan baik. Hal itu membuat ruang itu terlihat menarik. Saat itulah terpikirkan satu hal dalam pikiranku. "Benar. Inikan kamar seorang gadis... eh?”
“...ada apa Kak Rafli? Apa buburnya tidak enak?”
“Ah.. Tidak kok. Buburnya enak.”
“...syukurlah kalau begitu. Hehe...”
Via terlihat senang saat aku mengatakan buburnya enak. Akan tetapi aku sama sekali tidak bisa dengan jelas memperhatikannya. Saat ini pikiranku sudah benar-benar teralih dengan fakta bahwa aku sedang duduk diatas kasur gadis dikamarnya sembari memakan bubur hangat.
“Via... kalau boleh tahu, sekarang jam berapa?”
Via memiringkan kepalanya sebelum menjawab pertanyaanku.
“...hmmm... mungkin sudah jam 05.30...”
“Eh...?”
Aku sempat terkejut saat mendengarnya. Itu berarti aku sudah tertidur selama 2 jam bukan? Waktu yang cukup lama untuk tertidur hanya karena hal sepele. Namun bukan itu yang menjadi masalah sekarang, jika benar sekarang sudah hampir jam 6 sore, maka itu berarti dia sudah pulang.
Sekolahnya biasa berakhir jam setengah 5 dan dia akan langsung pulang. Saat itu dia bisa sampai ke rumah jam 5 tepat atau bahkan kurang. Tujuannya untuk cepat pulang adalah semata-mata untuk bertemu denganku. Lalu jika tujuannya tidak tercapai, maka musibah mungkin akan terjadi.
Disebabkan aku selalu mengurung diri di kamar, semua itu bukanlah masalah. Akan tetapi saat ini aku berada diluar dan lebih parahnya aku sedang berada dirumah seorang gadis. Satu-satunya kemungkinan yang bisa terjadi adalah dia akan benar-benar menjadikanku tahanan rumah.
“...um... Kak Rafli? Apa kamu baik-baik saja?”
“Eh.. Ah... iya, aku baik-baik saja.”
Untuk sesaat aku sempat melamun memikirkan semua itu. Tapi berkat suara Via kesadaranku kembali dan aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.
“Via, sekali lagi terima kasih sudah merawatku... lain kali aku akan membalas budimu... jadi aku akan pamit sekarang...”
“Ahh... Kak Rafli akan pulang sekarang?”
Sebuah wajah murung tiba-tiba bisa terlihat dari wajah Via. Itu seperti mengatakan kepadaku untuk sedikit lama lagi dirumahnya. Akan tetapi itu mustahil.
Aku berdiri dari tempat tidur dan melihat ke sekeliling lagi dengan maksud mencari handphone-ku. Itu terletak di meja yang berada disamping tempat tidur. Aku mengambilnya dan memegangnya menggunakan tangan kananku. Sekali lagi aku memastikan tidak ada barangku yang tertinggal atau hilang, meskipun itu sepertinya tidak mungkin.
Saat itu Via masih menunjukan wajah murungnya. Sebenarnya jika bukan karena dia, aku mungkin akan sedikit lebih lama disini. Lagipula ini mungkin pertama kalinya aku masuk ke kamar seorang gadis yang baru aku kenal. Namun tetap saja itu mustahil mengingat waktu yang terus berputar.
“Via...”
“?...”
“Umm... gimana ya?... mungkin lain kali aku akan berkunjung lagi. Lagipula kamu sudah banyak menolongku...”
“Ah...”
Aku mengatakannya dengan perasaan malu. Ya kalau dipikir-pikir lagi mana ada gadis baru dikenal yang tiba-tiba mengijinkan laki-laki asing untuk berkunjung. Sepertinya dia akan menolak—
“Benarkah itu Kak Rafli!?”
“Eh... iya.”
Namun sepertinya itu tidak seperti yang aku pikirkan. Bukannya merasa takut atau jijik, sebaliknya Via memberi balasan seperti seseorang yang baru mendapatkan hadiah yang sangat diinginkan. Jujur aku tidak mengeti jalan pikirannya.
“Baiklah, kalau kamu tidak keberatan... mungkin aku akan berkunjung lagi. Oh ya... kalau begitu aku minta nomor handphone Via? Ini supaya aku bisa menghubungi kalau misalnya akan datang.”
“Nomor? Handphone?”
“Huh? Handphone... masa kamu nggak punya?”
“...Hhmm... Handphone itu apa?”
Di zaman ini handphone sudah menjadi sebuah kebutuhan setiap orang. Jadi bukan hal aneh jika orang-orang tahu dan memiliki handphone. Namun saat aku melihat wajah yang ditunjukan Via saat aku menanyakan nomor handphone-nya, itu adalah wajah orang yang benar-benar tidak tahu apa-apa. “Yang benar saja?” itu yang sempat aku pikirkan. Namun tanpa berpikirkan panjang-panjang, aku menghela nafas dan mencoba menjelaskannya kepada Via.
“Handphone itu benda berbentuk persegi panjang digunakan untuk berhubungan dengan orang jauh...”
Untuk beberapa saat Via memiringkan kepalanya dan berpikir mengenai apa yang aku katakan kepadanya.
“Ahh... papan besi persegi panjang itu ya...”
“Papan besi persegi panjang?”
Sembari mengeluarkan sebuah pertanyaan akan nama yang Via berikan kepada handphone, aku sempat merasa bingung dengan hal tersebut. Tapi sebelum dapat menerima sebuah balasan, Via sudah berdiri dan pergi memeriksa laci di lemari yang tingginya dua kali dari tinggi badannya itu.
“Ini bukan Kak Rafli?”
“Iya itu!”
Dia menunjukan sebuah benda persegi panjang berwarna merah muda yang memiliki telinga kelinci disalah satu sisinya. Tidak salah lagi itu handphone. “Via memilikinya, tapi kenapa dia tidak tahu bahwa itu handphone ya?” aku berpikir untuk menanyakan pertanyaan itu, namun aku berusaha untuk tidak melakukannya. Kurasa sudah tidak ada waktu untuk melakukannya.
“Kalau begitu Via, bisa kamu berikan handphone itu kepadaku... biar aku yang memasukan nomornya, sepertinya kamu tidak terlalu mengetahui bagaimana cara menggunakan handphone...”
Tanpa berkata apa-apa Via memberikan handphone yang dia pegang dengan mudah. Handphone-nya tidak terpasang kunci, karena itu aku bisa dengan mudah membukannya. Lalu tanpa melihat apapun aku dengan cepat memasukan nomor handphoneku dan melakukan panggilan ke handphone-ku sendiri. Kemudian aku menutup panggilan tersebut tanpa mengangkatnya dan mengembalikan handphone Via kepada Via.
“Dengan begini selesai... nanti aku hubungi kalau akan datang kesini.”
“Ya...”
Sebuah senyum manis kembali Via tunjukan saat aku memberikan handphone-nya dan memberi tahu bahwa nanti akan aku hubungi jika akan berkunjung.
“Aku pergi dulu ya... dia pasti sedang menungguku saat ini.” Ucapku sembari membalikan badan dan berjalan ke pintu keluar
“...t-tunggu sebentar Kak Rafli...”
Sebelum dapat benar-benar berangkat menuju rumah, Via menghentikanku. Aku membalikan badanku lagi dan kembali melihatnya yang sudah ikut berdiri. Matanya terlihat serius berbeda dari sebelumnya.
“A-Ada apa Via?”
“...jangan lakukan hal itu lagi...”
“Hah?”
“...”
Dia kembali terdiam untuk beberapa saat. Mata seriusnya seketika berubah seperti mata orang yang sedih. Aku pun menyadari apa yang dia maksud.
“Ahh... masalah bunuh diri ya? Aku tidak memiliki niat untuk melakukannya dalam jangka waktu dekat ini. Jadi—“
“Jangan pernah melakukannya lagi!”
Aku sempat kaget karena suara lantang yang dikeluarkan oleh Via itu. Tapi tanpa mempermasalahkannya, aku menghela nafas dan menunjukan senyum masam.
“Iya, iya. Aku tidak akan melakukannya lagi...”
“...Benarkah?”
“Iya, aku janji.”
Sembari mengatakan bahwa itu sebuah janji, aku mengangkat tangan kananku lalu menjulurkan jari kelingkingku dan mengarahkannya tepat dihadapan Via. Sepertinya Via menyadari apa yang aku ingin lakukan. Dia pun melakukan hal yang sama.
“Ini janji.”
Dengan jari kelingking kami yang sudah saling terlilit, aku dan Via melakukan janji jari kelingking. Terdengar kuno, namun sepertinya Via menyukai hal tersebut dan aku tidak terlalu mempermasalahkannya.
“Kalau begitu aku pergi dulu ya Via. Sampai jumpa kapan-kapan...”
“Iya, hati-hati di jalan... oh ya, ada satu hal lagi yang aku lupa katakan.”
“Ada apa lagi?”
Via kembali menghentikanku. Akan tetapi tanpa membalikan badanku dan menghadap kepadanya, aku mendengarkan sembari memasang sepatuku.
“...saat Kak Rafli pingsan, papan besi—Handphone Kakak sempat berbunyi.”
“Apa maksudmu?... AHHH... Gawat!!!”
Via yang hampir salah mengatakan nama Handphone mengatakan bahwa Handphone sempat berbunyi, karena itulah aku mencoba memeriksanya. Kebetulan saat itu Handphoneku masih belum aku masukan ke dalam saku.
Ya sebelumnya aku sempat berharap itu bukan sesuatu yang penting. Namun perasaan kaget tiba-tiba muncul saat aku melihat pemberitahuan panggilan tidak terjawab dan pesan yang diterima di layar handphone-ku.
[100 Panggilan Tidak Terjawab] dan [100 Pesan Baru]. Itulah yang tertulis disana. Sontak saja itu membuatku kaget. Dengan terburu-buru aku berlari tanpa memperdulikan Via yang sejak tadi melihat kepergianku.
“Aku pulang, Via.”
“I-Iya... eh tunggu, Kak Rafli?”
Aku berlari dengan cepat menuju rumahku yang sepertinya tidak terlalu jauh dari sini. Untuk beberapa saat aku merasa seperti ada orang yang memanggilku. Tapi tanpa bisa memikirkannya, aku benar-benar harus sampai ke rumah jika tidak ingin menjadi tahanan rumah.
Comments
Post a Comment