Novel Ringan : Berikan Aku Sebuah Hobi! - Bab 01

Gagalnya Rencana dan Sebuah Kecelakaan 

Suara hujan bisa terdengar jelas saat itu. Seharusnya suhu bisa sedikit lebih dingin. Namun entah mengapa itu sama sekali tidak bisa aku rasakan. Ruangan dimana aku berada saat ini terasa sangat panas. Keringat bercucuran dari dahiku.
Meskipun begitu aku tidak terlalu mempermasalahkanya. Aku masih berada diatas kursi kayu sembari menjinjikan kedua kakiku. Tali yang sudah aku simpul sebelum-sebelumnya sudah benar-benar menyentuh leherku. Hanya sedikit gerakan kecil mungkin aku sudah berhasil melakukan apa yang aku rencana.
Merasakan apa yang dinamakan kematian.
Namun sepertinya rencana tersebut akan terhenti untuk sementara. Tapi bukan berarti aku tidak akan melakukannya. Setidaknya saat akan merasakan kematian aku ingin bisa memfokuskan perhatianku pada hal tersebut saja. Akan tetapi datanglah sebuah gangguan yang seharusnya tidak ada.
Didepanku atau lebih tepatnya dipojok kanan ruang aku sama sekali tidak menyadari ada seorang gadis berambut pirang pendek yang sedikit dari rambutnya diikat disebelah kanan sedang menatapku menggunakan mata keemasannya. Padahal aku yakin sebelumnya disana tidak ada apapun, tapi lihat apa yang ada sekarang. Sembari memeluk kedua kakinya, gadis terus menatapku setelah menanyakan sebuah pertanyaan kepadaku.
Tatapan itu jelas sangat mengangguku. Fokusku benar-benar teralih. Rencana merasakan kematianku mungkin tidak akan sesuai dengan apa yang aku harapkan jika dia terus menatapku seperti itu.
“Umm... apa maksudmu?”
Walaupun kakiku sudah hampir tidak kuat menahan berat badanku, sepertinya untuk beberapa menit aku akan baik-baik. Oleh sebab itulah untuk mengetahui maksud dari pertanyaan si gadis mungil misterius itu aku mengajukan sebuah pertanyaan.
“...”
“Hhhmm...”
 Namun sama sekali tidak ada jawaban yang terdengar dari gadis mungil tersebut. Dia masih manatapku dengan tatapan tajamnya dan jujur saja itu lama kelamaan semakin menggangguku. Waktu terus berjalan dan kakiku sudah hampir tidak bisa bertahan. Jika ini terus berlangsung, rencana kali ini mungkin benar-benar tidak akan sesuai dengan harapan.
(“Kau menganggu saja—“)
“...menganggu ya?”
“Eh...?”
Jelas-jelas aku mengatakannya dalam pikiranku. Tapi entah mengapa gadis mungil itu membalasnya sesuai dengan apa yang aku pikirkan. “Apa kamu esper?” kalimat itu yang sebenarnya ingin aku katakan, tapi sebisa mungkin hal itu aku tahan.
“...kakak pikir Via mengganggukan?”
“Via? Siapa?”
Untuk sesaat aku bingung dengan kata yang sepertinya sebuah nama itu. Tapi dengan cepat aku menyadari apa yang dia maksud.
“...Itu namaku... namamu?
“Ohh... namaku Rafli, Rafli Satya.”
“...Kak Rafli ya? Nama Via, Via Candrawati. Kak Rafli bisa panggil Via.”
Benar saja apa yang sempat aku pikirkan, “Via” adalah namanya. Mungkin bagi orang lain itu terdengar lucu, tapi saat dia berbicara sembari menyebutkan namanya sendiri, bagiku terdengar aneh. Karena dia menambahkan kata “Kak” saat menyebut namaku, kemungkinan besar dia lebih muda dariku. Ya jika dilihat baik-baik dia seperti anak smp sih. Jadi aku membiarkannya memanggilku begitu.
“Jadi Via... apa yang kamu lakukan disini?”
“...”
Via kembali tidak mengatakan apa-apa seperti sebelumnya. Tapi meskipun begitu dia masih menatapku dengan tatapan tajam. “Ahh... ada apa dengannya kali ini?” itulah yang aku pikirkan saat Via diam dan hanya menantapku.
Dan seperti sebelumnya juga, dia mungkin tahu apa yang sedang aku pikirkan. Namun dia tidak membalas seperti sebelumnya. Hanya saja Mata keemasannya seperti mengatakan seperti itu. Aku tidak tahu apa yang kulihat itu benar atau tidak. Namun saat mata kami saling bertemu, matanya seperti bisa membaca apa yang sedang aku pikirkan. Jujur saja itu menakutkan.
“Halo... Via...?”
“... sebelum menjawabnya, Via kembalikan dulu pertanyaan itu kepada Kak Rafli... apa yang Kakak lakukan disini?”
Tatapan yang dia berikan saat mengatakan hal itu kepadaku bukanlah tatapan orang yang sedang iseng bertanya. Tapi bisa sangat jelas bahwa itu adalah tatapan orang yang mengharapan jawaban yang sebenarnya. Jelas saja aku tidak bisa menghindari hal tersebut.
“Aku ingin mencoba hal bernama kematian...”
Aku menjawabnya tujuanku tanpa keraguan sedikit pun. Gairah yang sebelumnya aku rasakan mulai muncul kembali. “Ahh... aku ingin cepat merasakannya...” pikirku.
“...setelah itu?”
“Setelah itu? Maksudmu?”
“...maksud Via, apa yang akan Kakak lakukan setelah mencoba hal bernama kematian itu?”
“Ah... eh...”
Memang benar sebelumnya aku menjawab pertanyaan yang diberikan Via dengan penuh kesungguhan. Namun saat dia menanyakan pertanyaan lain kepadaku, perasaan ragu yang tadi sudah benar-benar hilang muncul kembali.
“Kalau itu...”
“...kalau itu apa?”
Via memiringkan kepalanya saat aku berbicara dengan nada keraguan. Rencana yang sudah aku susun dengan matang-matang ini hanya berisi tahap-tahap saat akan merasakan kematian. Tapi jika aku pikirkan lebih baik lagi, belum pernah aku terpikir apa yang akan aku lakukan setelah melakukannya.
Untuk sesaat aku berpikir keras mencari jawaban yang tepat. Akan tetapi seberapa keras pun aku mencarinya, tidak ada jawaban yang bisa aku temukan.
“...apa yang akan aku lakukan?”
“...”
Aku menanyakan pertanyaan itu kepada diriku sendiri. Via yang sejak tadi menunggu jawaban hanya diam melihat aku yang sudah jatuh kedalam lubang kebimbangan. Akhirnya tidak butuh lama, pikiranku secara perlahan terasa kosong. Aku benar-benar tidak bisa berpikir apapun. Seakan-akan saat itu otokku benar-benar berhenti bekerja.
“Kak Rafli tidak tahu, kan?”
“Ehh....?”
Namun sebelum pikiran benar-benar kosong, suara Via menyadarkanku. Dia mengatakan apa yang sedang aku alami sejak dia bertanya.
“...Via mengerti apa yang sedang Kak Rafli alami... Via juga sering mengalaminya... Via tidak terlalu pintar, tapi Via mengerti akan satu hal... jika seseorang mengalami kematian, maka dia akan lebih merasakan perasaan itu, perasaan kesepian dan orang yang di sekitarnya akan merasa sedih...”
Sejak pertama memulai pembicara Via cenderung mengatakan kalimat yang tidak terlalu panjang. Tapi saat itu entah mengapa dia mengatakan semua yang dia pikirkan dalam sebuah kalimat yang cukup panjang.
Aku mendengarnya dan menyadari akan satu hal. “Bukankah saat orang merasakan kematian, maka dia tidak bisa merasakannya lagi?” Sebuah fakta sederhana yang sama sekali tidak aku sadari sebelumnya. Ditambah pula benar apa yang dikatakan Via, jika aku benar-benar merasakan kematian, bukankah satu-satunya adikku yang merupakan satu-satu keluargaku akan menjadi sebatang kara. Dia anak yang lemah dan besar kemungkinan nanti dia akan melakukan hal yang sama sepertiku.
Sebuah kemungkinan yang sangat tidak aku harapkan terjadi. Dia anak yang lemah lembut dan penurut. Jadi jika dia mati karena orang rusak sepertiku ini, maka aku mungkin akan terus merasakan perasaan menyesal setelah mati nanti.
“...sepertinya Kak Rafli sudah sadar ya?”
“Eh... iya...”
Semenjak Via mengatakan apa yang dia rasakan dalam sebuah kalimat, sejak pula itu aku mulai melamun memikirkan apa yang akan terjadi jika aku memilih untuk benar-benar merasakan kematian. Sebuah hal yang memalukan aku tersadarkan oleh seorang anak yang lebih muda dariku. Namun tanpa bisa merasa malu, dalam hatiku sebenarnya aku sungguh bersyukur. Jika tidak ada Via, mungkin itu benar-benar akan terjadi.
“...bagus jika Kak Rafli sudah menyadari.... Jadi Kak Rafli sekarang sudah bisa turun, bukan?”
“Turun? Darimana?”
Saat sedang memikirkan apa yang Via katakan kepadaku, saat itu aku benar-benar lupa apa yang sedang akan aku lakukan. Kakiku masih menjinjik dan tali masih melilit leherku. Sepertinya tidak lama lagi kakiku akan kehabisan tenaga dan aku akan benar-benar tegantung layaknya daging yang digantung di toko daging.
(“Ahh.. sepertinya aku akan benar-benar mati. Maaf ya Riri... jangan ikuti langkah Kakakmu yang bodoh ini ya..”)
Seperti hendak mengatakan wasiat terakhir sebelum benar-benar mati, aku menutup mata karena kakiku sudah benar-benar tidak dapat menompang badanku. Meskipun sudah tidak ingin merasakan kematian, seperti itu sudah percuma saja. Dari awal mungkin aku sudah ditakdirkan akan mati.
 “Awass!!”
Sempat tidak percaya dengan apa yang aku dengar saat masih menutup mata, tapi sepertinya orang yang mengeluarkan suara lantang itu bukan lain adalah Via. Suara seperti mencegahku untuk benar-benar tergantung. Tapi sepertinya itu terlambat, aku sudah benar-benar tidak bisa merasakan badanku. Sepertinya aku sudah benar-benar mati.
“Hey..”
Ahh... baru saja aku mati masa aku sudah harus bangun lagi. Apa itu malaikat yang datang menjemputku untuk membawaku ke neraka? Untuk hal itu aku tidak tahu pasti. Padanganku gelap karena mataku yang masih tertutup. Tapi entah mengapa kematian terasa seperti saat masih hidup ya. Sebelumnya aku sempat tidak bisa merasakan semua anggota tubuhku, tapi secara perlahan aku bisa merasakannya kembali dan karena sebuah alasan sepertinya tangan kananku sedang memegang sesuatu yang lembuk. Aku meremasnya beberapa kali dan beberapa kali pula terdengar suara aneh.
“Eiikk...”
Untuk beberapa saat aku tidak memperdulikannya, lagipula aku sudah mati. Jadi mungkin ini hanyalah halusinasiku. Ya setidaknya itulah yang aku pikirkan.
“Berat. Cepat bangun... bodoh!”
Namun sepertinya apa yang aku pikirkan sepenuhnya salah. Apa yang aku pegang dan dengar bukanlah halusinasi setelah kematian. Lagipula saat suara itu terdengar aku mulai tidak yakin aku benar-benar mati. Karena itulah secara perlahan aku membuka mataku.
“Eh...”
Mataku sudah terbuka dan aku tidak bisa mempercayai apa yang pertama aku lihat saat ini. Kulitnya berwarna putih pucat. Ada dua mata, satu hidung, dan satu mulut. Sudah jelas itu sebuah wajah. Jaraknya sangat dekat dengan mataku. Sebenarnya aku ingin segera meloncat menjauh, tapi entah mengapa saat aku menggerakan tangan kananku, aku kembali merasakan benda lembut yang sejak tadi aku rasakan.
“Eiikk...”
Meskipun masih bingung dengan situasi yang sedang terjadi saat ini, aku dengan cepat mengalihkan padanganku ke letak tangan kananku berada. Disana aku sedang memegang sebuah gumpalan. Walaupun ukurannya tidak terlalu besar, aku tahu apa itu. “Ini gawat...” itu yang aku pikirkan.
“...Berapa lama lagi Kak Rafli akan seperti ini?”
Sebuah suara penuh amarah dan aura menyeramkan tiba-tiba bisa sangat jelas aku rasakan. Seperti yang aku duga, aku tidak mati. Tapi tetap saja apa yang sedang aku alami saat ini lebih parah dari kematian.
“Maafkan aku, Via.”
Untuk sedikit penjelasan, sebenarnya aku tidak mati. Sebaliknya tali simpul putus kemudian aku jatuh dari kursi dan menuju Via yang sebelumnya sempat berlari menuju arahku. Pada akhirnya untuk beberapa saat aku terbaring atas badannya dengan wajah yang tepat mengarah wajahnya dan tanpa sengaja memegang bagian terlarang miliknya.
Lalu karena marah akan hal tersebut, aku menerima tamparan yang menyebabkan bekas merah dipipi kiriku. Suaranya bergema di ruangan tersebut. Sebuah hukuman yang setimpal untuk orang bodoh sepertiku. Yah.. kurasa begitu.


Comments

Popular posts from this blog

Novel Ringan Terjemahan : Isekai wa Smartphone to Tomoni (Uebu Novel)

Novel Ringan Terjemahan : Date A Live (Baka-Tsuki & KimiNovel)

Novel Ringan Terjemahan : Yuusha-sama no Shihou-sama (Uebu Novel)